BP2M - Universitas Adhyaksa

Ketika Pengetahuan Bertemu: Universitas Adhyaksa Jajaki Kolaborasi Riset dengan Fujita Health University Jepang

Jakarta, 4 Agustus 2026 — Sebuah percakapan di lingkungan kampus Universitas Adhyaksa membuka kemungkinan yang lebih panjang dari sekadar kunjungan.

Pada Selasa, 4 Agustus 2026, Universitas Adhyaksa menerima kunjungan delegasi Fujita Health University Haneda Clinic, Jepang. Pertemuan tersebut mempertemukan dua lingkungan akademik dengan latar yang berbeda, tetapi memiliki ruang pertemuan yang sama: pendidikan, kesehatan, dan pengembangan pengetahuan.

Bagi Universitas Adhyaksa, pertemuan itu menjadi kesempatan untuk melihat lebih jauh kemungkinan kerja sama di bidang penelitian dan pengembangan keilmuan. Bukan sekadar siapa bekerja sama dengan siapa, melainkan apa yang dapat lahir setelah dua institusi mulai saling bertukar gagasan.

Delegasi Fujita Health University Haneda Clinic dipimpin Toshio Hamatani, M.D., Ph.D., Vice Director sekaligus Professor pada Fujita Medical Innovation Center Tokyo, Department of Clinical Regenerative Medicine, Reproductive Medicine Center, Haneda Innovation City, Tokyo.

Kedatangan delegasi tersebut disambut Wakil Rektor I Universitas Adhyaksa, Assoc. Prof. Dr. Hasbullah, S.H., M.H., CIIQA, bersama jajaran pimpinan universitas.

Percakapan kemudian berkembang pada sejumlah kemungkinan kolaborasi, mulai dari pendidikan, kesehatan, penelitian, hingga pengembangan kompetensi mahasiswa.

Menemukan Titik Temu di Bidang Kesehatan

Ada alasan mengapa pertemuan ini menarik untuk dilihat dari perspektif penelitian.

Fujita Health University memiliki lingkungan keilmuan yang berkembang di bidang kesehatan, termasuk kedokteran regeneratif dan reproduksi. Sementara Universitas Adhyaksa tengah mengembangkan bidang pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan sektor kesehatan melalui program studi Administrasi Kesehatan dan Administrasi Rumah Sakit.

Keduanya memang bergerak dari disiplin yang tidak sepenuhnya sama. Namun justru di situlah peluang kolaborasi dapat ditemukan.

Persoalan kesehatan tidak hanya berbicara tentang tindakan medis. Di belakangnya terdapat sistem pelayanan, tata kelola rumah sakit, administrasi, sumber daya manusia, kebijakan, hingga bagaimana layanan tersebut pada akhirnya diterima dan dirasakan masyarakat.

Ruang-ruang tersebut dapat menjadi titik temu bagi penelitian lintas disiplin.

Pertukaran pengetahuan dengan institusi dari Jepang juga memungkinkan dosen dan peneliti Universitas Adhyaksa melihat persoalan kesehatan dari perspektif yang berbeda. Sebuah isu yang selama ini dilihat dari sisi administrasi, misalnya, dapat memperoleh sudut pandang baru ketika dipertemukan dengan pengalaman akademik dan praktik kesehatan dari lingkungan internasional.

Dari percakapan semacam itulah ide penelitian sering kali bermula.

Dari Gagasan Menjadi Pengetahuan yang Berguna

Penelitian pada akhirnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang berapa banyak artikel yang berhasil diterbitkan.

Nilai sebuah penelitian juga terletak pada kemampuannya menjawab persoalan.

Karena itu, peluang kolaborasi seperti ini memiliki arti penting bagi Badan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BPPM) Universitas Adhyaksa. Jejaring internasional dapat menjadi pintu masuk untuk mempertemukan peneliti, memperluas perspektif, menemukan persoalan baru, sekaligus mengembangkan penelitian yang lebih relevan.

Pengetahuan yang lahir dari penelitian kemudian memiliki perjalanan berikutnya.

Ia dapat dibawa ke ruang kelas untuk memperkaya pembelajaran. Didiskusikan dalam forum ilmiah. Dipublikasikan agar dapat diakses oleh komunitas akademik. Dan ketika memungkinkan, hasilnya dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi, inovasi, edukasi, atau program pengabdian yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Dengan kata lain, penelitian tidak berhenti ketika penelitian selesai.

Ada proses untuk memastikan pengetahuan tersebut terus bergerak.

Mahasiswa Juga Perlu Berada di Dalam Proses

Kolaborasi internasional juga tidak hanya menjadi urusan dosen dan peneliti.

Mahasiswa adalah bagian penting dari ekosistem tersebut.

Keterlibatan dalam forum ilmiah, diskusi penelitian, pertukaran pengetahuan, maupun kegiatan akademik bersama mitra internasional dapat memperkenalkan mahasiswa pada cara kerja ilmu pengetahuan yang lebih luas.

Mereka tidak hanya belajar tentang apa yang sudah diketahui, tetapi juga bagaimana sebuah persoalan dirumuskan, diteliti, diperdebatkan, dan kemudian dicari jalan keluarnya.

Pengalaman semacam itu menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika nantinya berhadapan dengan persoalan nyata di tengah masyarakat.

Pertemuan yang Belum Menjadi Akhir

Pertemuan Universitas Adhyaksa dan Fujita Health University Haneda Clinic pada 4 Agustus belum menjadi kesimpulan dari sebuah kerja sama. Justru sebaliknya, pertemuan tersebut merupakan awal dari proses untuk melihat kemungkinan yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Masih ada banyak hal yang perlu dibicarakan: bidang penelitian yang paling relevan, bentuk kolaborasi, peneliti yang akan terlibat, hingga luaran yang dapat dihasilkan.

Tetapi setiap kerja sama besar selalu bermula dari sesuatu yang sederhana—sebuah pertemuan, sebuah pertanyaan, atau percakapan yang membuka kemungkinan baru.

Dari Jakarta, percakapan dengan Fujita Health University menjadi salah satu langkah Universitas Adhyaksa untuk memperluas ruang perjumpaan ilmu pengetahuan.

Sebab pada akhirnya, ilmu tidak hanya tumbuh ketika seseorang meneliti. Ilmu tumbuh ketika pengetahuan dipertemukan, dipertanyakan, dikembangkan, dan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk yang memberi manfaat.